Sabtu, 07 Maret 2009

sipakah aku dan siapa mereka

Dengar, dengarkanlah wahai saudaraku semua, tidakkah kau mendengar jeritan dan tangisan saudaramu yang ada dipalestina sana, jika kau mendengar akan itu adakah kau peduli dengannya?, adakah kau kasihan akan itu?, jika kau peduli akan itu adakah kau membantu mereka dengan kemampuanmu?, adakah kau ringankan beban mereka dengan segenap kemampuanmu?, jika kau kasihan dengan mereka adakah kau menangis juga dengannya ataukah kau ekspresikan sedihmu itu dengan menertawai mereka?, jika kau hanya bisa menangis mereka maka celakalah kau dan jika kau hanya bisa menertawai mereka maka kau lebih celaka lagi, maka dari itu wahai saudaraku yang ada dimanapun anda menangislah kau dengan segenap hatimu dan sertailah dengan do'amu yang ikhlas kepada ALLAH swt karena mudah-mudahan do'a yang kau ucapkan itu bisa meringankan penderitaan mereka disana, dan alangkahlebih baiknya jika kau tolongi mereka dengan do'a dan segenap usaha yang kau punya, karena jika kau pergunakan tenagamu untuk mencari keridhoan ALLAH swt niscaya itu lebih baik bagimu, untuk duniamu seta akhiratmu utamanya।

Wahai saudaraku yang ada dimanapun juga adakah kau tahu bahwa tangisan saudaramu yang ada disana juga merupakan tangisan malaikatmu yang ada pada jiwa dirimu dan adakah kau tahu bahwa jeritan saudaramu yang ada disana juga merupakan jaritan hati kecilmu yang selama ini tiada kau ketahui, wahai saudaraku ketahuilah bahwa kita ini merupakan makhluk yang seharusnya dan semestinya menyayangi dunia karena kita adalah kholifah yang diciptakanNya namun adakah kau bisa mencintai semua dunia ini sedangkan dirimu saja tidak bisa kau sayangi, ketahuilah bahwa mereka yang menderita disana adalah perwakilan dari dirimu yang belum sanggup menentang syetan-syetan seperti mereka. Sekarang wahai saudaraku kita senang dengan kemanisan islam yang suci adakah kau pernah berfikir tentang prjuangan orang yang mempertaruhkan jiwa, harta, bahkan jiwa dan nyawanya demi ketetapan berdirinya islam saat ini?, wahai saudaraku adakah kau rasakan keadilan islam nan indah itu?, namun wahai saudaraku adakah kau berikan juga keadilan itu pada saudaramu yang telah berjuang demi khttp://start.ubuntu.com/8.10/etetapan kesucian agamamu ini?, adakah kau berikan sedikit kasih sayangmu buat mereka yang ada disana?, wahai saudaraku tenangkan dirimu luruskan niatmu ikhlaskan hatimu tegarkan jiwamu hadapilah syetan-syetan dunia ini dengan ketangkasan jiwa ragamu!. Wahai saudaraku sekalian adakah kau ingat bahwa hidup ini merupakan sebuah perjuangan, namun adakah kau tahu bahwa membantu mereka mengusir syetan-syetan lebih merupakan perjuangan, dan lebih perjuangan lagi jika kau menghancurkan benteng-benteng kesombonganmu untuk bisa membantu perjuangan mereka disana, ketahuilah bahwa perjuangan yang besar akan menghasilkan untung yang besar juga, dan tahukah kau bahwa sebesar-besarnya untung yang ada adalah syorga ALLAH swt yang kekal untuk selamanya, dan ketahuilah bahwa syahid merupakan sebuah jaln untuk menuju keuntungan itu!. Hari-hari ini merupakan hari-hari yang sangat menyedihkan bagi saudara kita dipalestina sana, namun walau begitu jua hari ini merupakan hari yang baik bagi para pejuang-pejuang mujahid islam karena hari ini merupakan hari prjuangan keabadian islam dan hari ini merupakan hari-hari menuju jalan kesyorga bagi mereka. Wahai saudaraku sekalian adakah kau tahu cita-citamu?, adakah kau tahu apa yang sebenarnya kau inginkan dari hidup ini?, apa sebetulnya yang sangat berharga dari hidupmu ini?etahuilah wahai saudaraku sekalian bahwa cita-cita tertinggi ummat islam adalah syahid!. Wahai saudaraku sekalian jika kau seorang yang tidak tahu dengan syetan-syetan duniamaka perlu kau ketahui bahwa inilah kisah hidup mereka: penamaan Bani Israel dengan kaum “Ibrani” karena peristiwa penyeberangan Ibrahim a.s. melintasi sungai Eufrat. Pendapat ini diperkuat dengan apa yang termaktub di dalam Kitab Joshua: “Demikianlah Tuhan Israel berfirman tentang penyeberangan sungai itu, di mana leluhur kalian tinggal sejak dahulu kala, dan bapak Ibrahim dan bapak Nahur, menyembah tuhan-tuhan lain. Maka Aku bawa Ibrahim menyeberangi sungai itu dan berjalan di tanah Kana'an.” 14) Majalah al-'Arabi Kuwait memuat sebuah artikel yang ditulis oleh Pendeta Ishak Salka dengan judul Ma'nâ at-Tasmiyât li asy-Syu'ub as-Sâmiyah ats-Tsalâtsah al-Kubrà” (Arti Nama-nama Tiga Bangsa Semit Besar). Dalam tulisannya tersebut ia mengatakan, “Nama tersebut (Ibrani) tidak muncul kecuali setelah Ibrahim a.s. menyeberangi sungai Eufrat.” 15) Pendapat ini adalah pendapat yang paling mendekati kebenaran daripada pendapat-pendapat lainnya. Sedangkan sebutan “Orang-orang Israel (Isra'iliyyIn)” atau “Bani Israel” adalah sebutan yang dinisbatkan kepada bapak mereka, Israel, yakni Yakub ibn Ishak ibn Ibrahim a.s. Israel adalah kalimat yang terdiri dan dua kata: isra, yang artinya hamba atau teman dekat, dan el, yang artinya Tuhan. Maka arti Israel adalah hamba Tuhan atau teman dekat Tuhan. Dan dalam kebanyakan bahasa Semit, bukan hanya dalam bahasa Ibrani, kata El selalu bermakna Tuhan' 16) Yakub a.s. memiliki dua belas anak laki-laki. Al-Quran menyebut kisah Yakub dan anak-anaknya ini di berbagai tempat, di antaranya di dalam surah Al-Baqarah ayat 133: “Adakah kalian hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” Sedangkan penamaan mereka dengan “Yahudi” muncul di saat mereka bertobat dan menyembah anak sapi. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau.” (QS. A1-A'râf: 156) Artinya, kami bertobat dan kami kembali kepada-Mu. Menurut sebuah riwayat, mereka dinamakan Yahudi kareiia mereka bergerak-gerak (yatahawwad) ketika membaca Taurat. Menurut riwayat lain, mereka dinamakan Yahudi karena dinisbatkan kepada Yehuda, anak keempat Yakub a.s., yang nama aslinya adalah Yehuza, pemimpin bagi sebelas anak Yakub lainnya. Beberapa ilmuan membenarkan pendapat mi.' 17) Dr. Jawwad Ali mengatakan, “Istilah ‘Yahudi' lebih luas maknanya daripada istilah ‘Ibrani' dan ‘Bani Israel'. Hal ini karena istilah ‘Yahudi', selain disematkan kepada kaum Ibrani, juga disematkan kepada orang-orang non-Ibrani yang memeluk agama Yahudi.” 18) Sedangkan mengenai asal usul Yahudi, mereka termasuk bangsa Semit. Beberapa pemerhati bahasa-bahasa Timur Dekat menemukan beberapa kesamaan yang jelas antara mereka dan bangsa-bangsa Semit lainnya, seperti Babilon, Assyria, Kana'an, Aram, Habasyah, Nabath, Arab dan lain sebagainya. 19) Mereka berasal dari Ibrahim a.s., yang memiliki kedudukan istimewa bagi tiga agama besar dunia: Yahudi, Nasrani dan Islam. Ibrahim a.s. adalah salah seorang nabi agung dalam sejarah manusia, karena ia berjuang mengajak kepada tauhid dan akidah ketuhanan. Seluruh hidupnya adalah serial pengorbanan dan keikhlasan di jalan Tuhannya. Jika kita perhatikan ayat-ayat al-Quran, kita akan menemukan di sana beberapa peristiwa besar perjuangan Ibrahim dalam merealisasikan akidah di tengah-tengah kaumnya, yang dilakukan dengan segenap keberanian, didasarkan pada argumentasi rasional dan penuh pengorbanan. Al-Quran seolah meminta kita untuk sejenak memperhatikan beberapa. sifat Ibrahim a.s. Allah berfirman, “Sesungguhnya Ibahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan.” (QS. An-Nahl: 120) Ia sendiri adalah “umat” yang memiliki semua sifat mulia dan luhur. Al-Quran juga mengatakan Ibrahim sebagai, “Patuh kepada Allah.” (QS. An-Nahi: 120) Yakni seorang yang khusyu, berserah diri, taat dan mencintai Allah Tuhan semesta. Allah juga mengakatakan Ibrahim dengan, “Hanif (cenderung kepada kebaikan). Dan sekali-kali dia bukan termasuk orang-orang yang mensekutukan (Tuhan).” (QS. AnNahl: 120) Yakni seorang yang mengesakan Allah dan ikhlas kepada-Nya. Allah juga mengatakannya dengan, “(Lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (QS. An-Nahl: 121) Yakni seorang yang selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah. Allah juga mengatakannya dengan sifat agung yang dimiliki setiap nabi, “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi.” (QS. Maryam: 41) Sebuah penegasan tentang kejujuran dan kedalaman perkataannya. Allah juga mengatakannya dengan sifat yang paling baik di antara sifat-sifat lain, sebuah sifat yang dibutuhkan setiap manusia dan saudaranya, manusia lain, yakni sifat amanah. Allah berfirman, “Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.” (QS. An-Najm: 37) Yakni seorang yang amanah, menunaikan segala perintah Tuhannya dan taat pada setiap nilai dan keimanan. Oleh karena itu, nabi yang mulia mi berhak menyandang karunia Allah berikut: “Allah telah memilihnya dan menunjukkan kepadanya jalan yang lurus.” (QS. An-Nahi: 121)

Jumat, 06 Maret 2009

ENAKNYA SHOLAT

Beberapa hari ini berat sekali rasanya. Rasanya ada yang ingin berontak dan keluar dari dalam dada. Serasa dihimpit dua tembok raksasa dan tidak kuasa menahan.

Namun, ternyata itu adalah sebuah rahasia dari Tuhan. Dan rentetan ini adalah sebuah rentetan panjang panggilan Tuhan kepadaku. Panggilan besar ini pun ternyata dilakukan pada bulan Rajab. Bulannya Allah. Syahrulloh… Bulan dimana perintah shalat pun disampaikan Allah kepada Rasulullah tercintanya langsung di sidratul muntaha.

Kegundahanku dan kebingunganku mulai memperoleh jawaban pasca pengajian haji mama papa di Solo. 3 kali dalam sehari memperoleh peringatan melalui pengajian tentang sholat membuatku tersadar bahwa pasti ada yang salah dengan sholatku. Dan aku pun mulai mencari.

Via mister google.com aku dipertemukan dengan sebuah blog review sebuah buku berjudul Pelatihan Sholat Khusyu’ karya Abu Sangkan. Dari blog itu aku membaca betapa indahnya sholat yang khusyu’ dan ihsan. Bertemu dengan Tuhannya. Berdialog dengan Tuhannya. Kembalinya ruh kita pada kesadaran tertinggi untuk mencapai kedamaian.

Sholat dhuhur kemarin menjadi sebuah awal kunci pembuka hati. Saat pertama kakiku kembali ke rumah Allah. Aku memulainya dengan kepasrahan. Aku tidak mencari khusyu’. Khusyu’ tidak usah dicari. Khusyu’ adalah karunia. Karenanya kita hanya bisa mempersiapkan diri untuk menerimanya. Dia akan datang bagi yang pasrah dan menerima. Aku tidak berkonsentrasi. Aku berserah diri seluruhnya kepada Allah. Aku akan berhadapan dengan penciptaku. Aku ajak ruhku untuk kembali ke rumah. Rumah Allah..

Aku baca takbir dengan perlahan. Seperti memanggil Allah. Pelan dan hikmat.

Dan tiba-tiba terdengar suara. “Ya hambaKu.. masuklah.. Aku sudah menunggumu.. lama sekali.. Aku rindu padamu.”

Air mata langsung membanjir dimataku. Dialog ini kemudian dimulai.

Aku baca doa Iftitah sebagaiman diajarkan Rasulullah tercinta. Aku mohon pada Allah untuk dibersihkan dosa dan dosa yang menempel di seluruh ragaku. Aku menangis. Aku mengakui betapa kotornya dan tidak pantasnya aku berada disitu. Berdialog denganNya.

Namun Tuhan ternyata Maha Pengampun. Sungguh Maha Pengampun. Kurasakan belaian lembut dikepalaku. Laksana belaian seorang ayah pada anak kesayangannya.

“Aku akan memaafkanmu, asal kau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi”

“Tapi aku mungkin akan mengulanginya lagi.” Demikian kataku.

“Aku akan menjagamu dari hal-hal seperti itu, selama engkau mau mengingatKu seperti ini”

“Dan jika aku ternyata masih mengulanginya lagi?” Sahutku pelan.. Takut..

“Dan jika kemudian kau datang lagi padaKu seperti ini, Aku niscaya akan memaafkanmu. Tapi berjanjilah untuk berusaha menjauhinya. Karena aku sungguh tidak menyukainya.”

Tangisku pun makin deras mengalir. Tuhanku masih mengampuniku. Setelah banyak dosa yang aku lakukan kepadaNya.

“Baik ya Allah. Aku berjanji.” Aku berjanji dengan sepenuh hatiku.

Al-Fatihah kubaca perlahan. Surat Pembuka. Kubaca setiap ayatnya dengan hikmat. Kucermati artinya. Kurasakan maknanya. Sampai pada ayat Arrahmaan nir rahiim. Aku bersyukur dengan segala nikmat yang diberikan Tuhan. Kasih sayangnya melimpah ruah disetiap hari-hariku.

Tubuhku mulai bergetar hebat saat kubaca ayat ke empat. Maaliki yaumiddiin. Yang memiliki hari Pembalasan. Rasa takut itu hebat sekali. Tubuhku menggigil. Aku ketakutan luar biasa. Dosaku terhampar di depan mata. Aku berteriak memanggil namanya. Ya Allah.. Ya Allah.. Ya Allah… Aku takut ya Allah… Aku bagai anak kecil yang ketakutan sambil memanggil nama ayahnya.

Dan Dia kemudian memelukku. Menenangkanku.

Ihdinas shirotol mustaqiiem.. Tunjukkan lah aku jalan yang lurus ya Allah. Aku menangis lagi. Menangis dalam pelukanNya. Aku takut lagi. Aku tersesat selama ini. Jalan berliku-liku. Dan aku tersesat.

Dan Dia menggandeng tanganku. Laksana ayah yang menggandeng anaknya menyeberang jalan. Aku merasa tanganku meraihNya. Aku pasrah. Aku akan ikut kemanapun Dia membawaku. Jalan didepanku pun terbentang lurus. Panjang memang. Namun lurus.

Aku membaca surat pendek Al Ikhlas. Aku ingin mengagungkanNya. Dia adalah satu-satunya bagiku. Dia Tuhanku. Dia penolongku. Dia tempat aku menggantungkan semua harapanku.

Saat membaca doa ruku’. Aku menangis lagi. Ya Tuhanku. Maha Suci Engkau yang Maha Tinggi. Aku mengakui kelemahanku sebagai makhluknya. Aku tidak berdaya apa-apa dihadapanMu.

Sami Allahu liman hamidah. Semoga Allah mendengarkanku.

“Ya Allah. Kanjeng mirsani kulo toh ?” Aku bertanya dengan perasaan takut. Aku bertanya bak seorang rakyat kecil kepada rajanya.

“Ya.. aku melihatmu.” Demikian Dia menjawabku.

Sujud. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku pasrah. Aku serata tanah. Tidak ada kecongkakan dan kesombongan yang bisa aku banggakan di depanNya. Aku lemah selemah-lemahnya. DihadapanNya aku tidak berarti apa-apa. Dan Dia masih mau berdialog denganku. Aku menangis… lama sekali.

Duduk antara dua sujud. Allahummaghfirli. Ya Allah kasihanilah aku. Aku mengemis padanya. Nyuwun duko kanjeng Gusti. Dan aku menangis lagi. War hamni. Sayangilah aku. Aku memohon untuk disayangi. Tanpamu aku tidak akan bisa hidup ya Allah. Airmata itu makin membanjir. WajburniWar faqni. Warzuqni.. Berilah aku rejeki. Kulo nyuwun paring-paring Gusti Pangeran. Nyuwun rejeki. Dan Dia tersenyum. Wahdinii. Tunjukilah aku. Aku yang sedang bingung ini ya Allah. Tumpah semua uneg-uneg dihati ini. Rasanya ingin sekali menangis keras-keras. Wa afinii. Sehatkan aku ya Allah. Wa fu’anni. Dan maafkanlah hambaMu yang berdosa ini. Lama sekali aku duduk meresapi setiap arti dari kata-kata itu. Rasa kotor ini makin terasa dan makin membesar. Tumpah semua bak air bah keluar dari tanggul.

Dan dialog itu berulang setiap raka’at. Rasanya dialog ini menjadi sebuah privasi antara aku dan Tuhanku. Sebuah priviledge yang hanya bisa dimiliki antara aku dan Tuhanku. Maksudnya, inilah komunikasi 2 arah yang khusus antaraku dan Tuhanku. Akan mungkin sekali berbeda dengan komunikasi yang terjadi antara anda sekalian dengan Allah. Akan berbeda untuk setiap individu.

Pada sebelum sujud terakhir, aku bertanya padaNya.

Paring mboten kulo nyuwun peparingan ?”

“Mintalah.. Niscaya Aku akan mengabulkannya.”

Dan tumpahlah semua persoalanku di sujud terakhir ini. Semua kegundahan hati ini tertumpah basah di sajadah. Aku mengadu. Aku memohon. Aku paring-paring kepadaNya. Terutama dengan masalah Genduk yang membuatku luluh lantak.

“Itukah permintaanmu ?” Dia tersenyum. “Aku akan mengabulkannya.”

Mendengarnya aku langsung menangis sejadi-jadinya. Ucapan terima kasihku tak henti-hentinya terucapkan. Bebanku serasa diangkat. Tembok besar yang menghimpitku serasa dipindahkan. Dada ini terasa lapang.

Kini, aku menantikan setiap saat shalat. Karena itulah saat aku bertemu PenciptaKu. Tuhanku. Yang mencintaiku. Dan selalu Mencintaiku…. Walau sudah lama aku tidak berdialog dengannya. Betapa rindunya Dia padaku.

“Sudah pulang kau hambaKu ?”

“Sudah berapa lama aku tidak pulang ya Allah ?”

“Berapa umurmu sekarang hambaKu ? Jumlahkanlah dengan bulan saat kau dikandung ibumu. Karena saat itulah Aku meniupkan ruhKu ke dalam kandungan ibumu. Selama itulah Aku merindukanmu untuk berbincang denganmu lagi.”

Dan aku hanya bisa menangis. Memandangnya dengan linangan air mata. Dan Dia menatapku dengan senyuman. Senyuman terindah yang pernah aku lihat. Dan aku berjanji akan lebih sering pulang. Aku rindu padaNya. Sungguh rindu.